Saturday, January 10, 2015

Moving on.

Hello there whoever is reading this. I guess it's a lucky day for me to have you stumble upon this blog.
As much as I'm honoured to have my daily ramble read by someone, I have to inform you that I'm no longer using this blog. As you can see, the last time I posted something in here was two years ago and since then I've moved to a new blog. I will be very happy if you visit my new blog and maybe engage in a conversation with me through blog comments.

Here's the link to my new blog: www.azarinekylarinta.com

Monday, July 16, 2012

Cult Logic

A Spanish missionary was visiting an island when he came across three Aztec priests.
“How do you pray?” The missionary asked.
“We have only one prayer,” answered one of the Aztecs.”We say ‘God, you are three, we are three.Have pity on us’.”
“A beautiful prayer,” said the missionary.”But it is not exactly the one that God heeds.I’m going to teach you one that’s much better.”

The padre taught them a Catholic prayer and then continued on his path of evangelism.Years later, when he was returning to Spain, his ship stopped again at the island.From the deck, the missionary saw the three priests on the shore and waved to them.Just then, three men began to walk across the water toward him.
“Padre! Padre!” one of them called, approaching the ship.”Teach us again that prayer that God heed.We’ve forgotten how it goes.”
“It doesn’t matter,” responded the missionary, witnessing the miracle.And he promptly asked God’s forgiveness for failing to recognize that He speaks all languages.
- Paulo Coelho's notes on his novel: "By the River Piedra I Sat Down and Wept"

Kemarin Maghrib, Mama saya mengajak saya untuk sholat Maghrib berjamaah.Yang kemudian saya tolak dengan kata-kata,”Aku gak bisa khusyuk kalo sholat berjamaah.” Dan disambut dengan muka heran Mama saya yang lantas bergumam,”Aneh.”

Aneh memang.Mengingat dalam ajaran agama yang saya anut, Islam, sholat berjamaah dikatakan lebih banyak pahala nya dibandingkan sholat sendiri.Tapi saya jujur ketika saya bilang bahwa saya tidak bisa khusyuk sholat berjamaah.How am I supposed to communicate with God when I have no idea what Surah’ I’m humming in my sholat? .Problematika dari sholat berjamaah adalah, ketika Imam saya baca bacaan sholat yang tidak saya mengerti atau saya hafal, otomatis instead of mengilhami makna dari surat Al Quran dan berkomunikasi dengan Tuhan, saya malah memikirkan hal-hal duniawi seperti…makanan apa yang akan saya makan setelah saya melaksanakan ‘ritual’ ini.

It was very arrogant indeed.I’m fully aware that I’m questioning the purpose of a sacred ritual of a religion.On the first glance, people think I have no faith in my religion, even worst some think I don’t believe in God.Dalam Islam maka saya mempertanyakan esensi dari sholat, yang wajib dilaksanakan 5 kali sehari.I refuse to do my sholat ritual karena saya merasa untuk apa saya melaksanakan semua gerakan-gerakan ini apabila saya saja tidak mengerti arti dari doa Iftitah atau dari bacaan ketika saya Ruku’ dan Sujud.Saya bukan tidak percaya pada Agama saya, apalagi tidak percaya Tuhan.Saya cuma tidak mau melaksanakan suatu ritual tanpa mengilhami maksud dibalik semua gerakannnya.Saya terlahir sebagai Islam, saya diajari tentang makna sholat dan sebagainya ketika saya bahkan belum mampu mencerna apa itu agama dan apa itu pentingnya agama.Yang saya tau, sholat itu wajib, tidak dapat diganggu gugat.Islam itu paling benar, dan logika-logika keagamaan lainnya.Tetapi, 9 hari lagi saya berumur 20 tahun.Bodoh sekali rasanya apabila saya melakukan ritual 5 kali sehari yang tidak saya pahami maksudnya.Apalagi saya disekolahkan secara baik dan benar sama kedua orang tua saya.Rasanya ada yang mengganjal apabila saya melakukan sesuatu tanpa saya mengerti, apalagi ini berhubungan dengan hal paling prinsipil dalam hidup, KeTuhanan dan keagamaan.Maka pada awal-awal kesombongan saya, saya memutuskan tidak ingin sholat karena saya tidak paham, atau lebih tepatnya..tidak mau paham.

I get even more arrogant karena saya merasa terusik dengan saudara-saudara mukmin saya para orang Muslim yang mendeklarasikan dirinya sebagai orang paling suci dan mendeklarasikan Islam sebagai agama yang paling benar.Bagi saya sendiri, kebenaran itu relatif, interpretasi manusia terhadap kitab suci sangat beragam dan tidak ada satupun manusia di bumi ini yang harusnya menyombongkan kesucian agamanya karena 'ritual' itu tidak absolut.Semua agama itu suci, dengan caranya masing-masing karena toh tidak ada agama yang mengajarkan kemungkaran.Dalam salah satu surat di Al Quran sendiri dikatakan ”Lakum’ Dinukum Waliyyadin” yang artinya
“Untukmulah agamamu, dan untukkulah agamaku”.
Dalam realita nya, banyak orang yang memaksakan kesucian agamanya terhadap orang lain.Bukankah percaya pada Tuhan dan menjalankan ritual sesuai dengan kepercayaan masing masing sudah cukup? God speaks all languages, as human being, we have no rights to tell which kind of prayers yang didengar Tuhan.

"Miracles occur all around us, signs from God show us the way, angels plead to be heard, but we pay little attention to them because we have been taught that we must follow certain formulas and rules if we want to find God.We do not recognize that God is wherever we allow Him to enter"

Keterusikan saya yang selanjutnya adalah..betapa susahnya saya mencintai pencipta dari hal-hal yang sangat saya cintai.Saya mencintai keluarga saya, kehidupan saya, saya bahkan mencintai satu orang dengan jiwa raga saya sampai terkadang saya heran kenapa ada rasa cinta sebesar ini.Saya menangis untuk kehidupan saya, untuk dia yang saya cintai, untuk keluarga saya, untuk ayah saya.Tetapi..kenapa sulit sekali saya mencintai yang menciptakan diri saya, keluarga saya, dan dia? Kenapa tidak bisa saya menangis untuk Tuhan? Kenapa tidak ada perasaan meledak ledak karena terlalu mencintai yang saya rasakan? Aneh kan. How could I love His creation so much but fails to love the Creator?
Pada suatu percakapan dengan seorang teman, dia mengatakan bahwa memang susah mencintai sesuatu yang tidak terlihat fisiknya.Seperti berusaha menyentuh angin, saya tidak bisa menyentuh angin, tapi saya bisa merasakan..tetapi saya tidak bisa mencintai angin seperti saya mencintai air, api, atau tanah karena saya tidak pernah melihat angin seperti saya melihat elemen yang lainnya/

9 hari lagi saya berumur 20 tahun.Sudah 20 tahun saya diberi hidup oleh Tuhan, sudah beberapa tahun belakangan saya menyadari betapa luar biasanya nikmatNya yang diberikan pada saya, betapa Dia mencintai saya.Egois sekali kalau saya tidak mau berusaha mengenal Kekuatan yang telah memberi saya kehidupan, yang menjadikan saya, bisa menulis menumpahkan perasaan disini.Kalau dulu saya menolak untuk menjalankan ritual karena saya tidak mau melaksanakan sesuatu yang tidak saya jalani dengan nurani.Sekarang saya sedang dalam usaha untuk memahami, bukan menghindari.Saya ingin berkomunikasi dengan Tuhan, bukan cuma menjalankan ritual karena paksaan.I come to learn that I’ll never know how deep the water is dan apa yang berada dibalik permukaan air ini, until I dive in it, dive deeper and deeper until I crushed and pressurized by what I find in the deep.However, in this case of diving, when I finally crushed,pressurized, and blown into a tiny little particles..It will be an euphoric explosion for I have fill the emptiness in my heart.

“and it's like I'm diving into emptiness
but at least there's something beating in my chest

can you free me from the logic that I knew?
I believe it even if it is not true.”
-a song by Miike Snow, Cult Logic.

Wednesday, July 11, 2012

Jakarta City Blues♫

“Keluar rumah, macet abis.Hujan deras, basah kuyup, banjir selutut.Itu sudah biasa….Jakarta City Blues.
Pagi pagi udah polusi, naik bis kota, salip kiri kanan-bikin jantungan.Itu sudah biasa…Jakarta City Blues.” – Jakarta City Blues by Indra Aziz.



Hari ini, kota tempat saya menghabiskan 11 tahun terakhir saya sedang merayakan pesta Demokrasi.Pemilihan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta untuk periode 2012-2017.I’m very anxious because this is my first election, I wasn’t old enough back then in 2007 and I didn’t really care either back than.I also missed the last presidential election because I was still in United States of America.Pemilihan kali ini sangat penting buat saya, not only because this is my 1st election tapi juga karena….

Karena saya sudah hampir 11 Tahun tinggal di Jakarta.This recent few years I’ve been experiencing the rotten side of Jakarta.Insane traffic jam, improper public transportation, social injustice everywhere.Kebetulan saya berdomisili di Jakarta Pusat, daerah Jakarta dimana kesenjangan sosial paling terlihat nyata.Orang paling kaya di Jakarta berada di Jakarta Pusat.Mendiami rumah-rumah fancy di Menteng.Tapi Jakarta Pusat isn’t only about grandeur houses, protocol road, top-notch malls and lavish office buildings.Orang-orang yang hidup dibawah garis kemiskinan tersebar di balik bangunan-bangunan megah di jalan Sudirman dan M.H. Thamrin, dilewati seliweran mobil mobil mewah di jalan protokol.5 tahun terakhir ini saya mulai melihat kondisi Jakarta yang sesungguhnya.Sebuah ironi nyata yang langsung diperlihatkan di depan muka saya.Saya ingat beberapa waktu yang lalu berjalan di trotoar Plaza Indonesia, I was taken aback by it’s sumptuous atmosphere.Di dalam Plaza Indonesia itu bertebaran brand brand seperti Luis Vuitton, Bvlgari, Juicy Couture dan brand-brand yang satu harga barangnya bisa memberi makan satu RW.But then I came across nenek-nenek yang sedang tertidur di jalan, orang-orang di sekitarnya yang memakai pakaian bagus dan segala macam tak satupun ada yang memperhatikan.Sekedar menengok pun tidak.At that time, I was disgusted to the core, to myself especially, I even cried afterwards for my helplessness and the injustice that surrounds me and my beloved city.Jakarta ini butuh perubahan, Jakarta butuh perbedaan.


Lain waktu saya naik KRL dari Stasiun Manggarai dan naik Trans Jakarta menyusuri trayek Pramuka-Pasar Minggu.Darisitu saya sadar bahwa demografi Jakarta ini berbentuk segitiga, di mana bagian terbawahnya dan bagian dominannya adalah kelas menengah kebawah.Bagian terbawahnya adalah nenek-nenek yang saya temui di trotoar jalan Plaza Indonesia, bukan orang-orang seperti saya ini yang masih bisa tidur di dalam rumah, atau orang-orang seperti mereka yang bisa membeli satu tas yang bisa menyekolahkan ratusan anak jalanan.

Karena yang kedua adalah, karena saya ini mahasiswa.Sudah mahasiswa, fakultas nya Ilmu Sosial dan Politik pula.An intellectual has a responsibility to educate their society, their surrounding, to sober them up.Mengutip kata Pramoedya Ananta Toer dari buku Bumi Manusia,
“Seorang terpelajar harus sudah berbuat adil, sejak dalam pikiran apalagi dalam perbuatan”.
Saya mengilhami kata kata ini sebagai pengingat bahwa ilmu yang saya dapatkan ini harus saya amalkan, saya perluas, tidak disimpan sendiri.Dengan ilmu yang saya sudah dapat selama ini, saya punya kewajiban untuk paling tidak: peduli pada politik dan meningkatkan kepedulian orang di sekitar saya kepada politik.Karena sememuakkan apapun politik, politik itu menyangkut hajat hidup orang banyak.Hajat hidup saya sendiri, dan lebih penting lagi mereka yang berada di piramida terbawah segitiga penduduk Jakarta.

Karena dua hal ini, saya mulai mengamati profil dari calon Gubernur dan calon wakil Gubernur Jakarta.Jakarta, sebagai jantung dari pulau Jawa, dan Indonesia, memegang posisi yang sangat strategis.Bahkan ada frasa yang menyatakan bahwa, siapa menguasai Jakarta, maka dia menguasai Jawa, siapa menguasai Jawa, maka dia menguasai Indonesia.Dari tahun 2007 hingga 2012 ini saya telah sukses dikecewakan oleh kepemimpinan Fauzi Bowo dan wakil Gubernurnya, Prijanto.Bang Foke yang kata nya kenal betul Jakarta ini tidak menunjukkan hasil yang berarti buat Jakarta, Jakarta semakin macet, pembangunan mall semakin banyak, kesehatan dan pendidikan tidak membaik, dan tentu saja sebagai kelas menengah yang paling menyinggung kehidupan saya adalah sistem transportasi publik yang luar biasa, buruknya.

Dari ke 6 calon yang ada, saya menaruh simpati pada Hidayat Nur Wahid&Didik, Jokowi&Ahok, dan tokoh yang saya pilih dan saya jagokan bang Faisal Basri&Biem Benjamin.Hidayat Nur Wahid itu dikenal sebagai politikus yang lurus, relijius, saya yakin jujur dan amanah.Begitu juga dengan Jokowi yang dielu-elukan sebagai “Soekarno kecil” karena ke pro-rakyatan nya.Yang saya permasalahkan bukanlah individu dari Pak Hidayat ataupun pak Jokowi, tetapi partai yang berada di belakang mereka.Partai selalu punya kepentingan, tetapi Jakarta ini bukan milik partai.Jakarta ini milik warga, milik orang orang yang jualan bakso, ketoprak, soto betawi di pinggir jalan.Jakarta ini milik warga yang tertidur di pinggir jalan di tengah belantara beton Jakarta sementara orang-orang yang diuntungkan oleh kepentingan partai tidur di atas King Koil bed.Jakarta ini milik saya, dan ratusan ribu karyawan kantoran yang berdesak-desakan di Commuter Line dan Trans Jakarta untuk mencari rezeki demi bertahan hidup di Jakarta.Jakarta bukan miliki partai, Jakarta milik warga.Saya merindukan sesosok yang mencintai Jakarta hingga ke akarnya, mengenal Jakarta dan kepentingannya bukan kepentingan partai atau golongan, tetapi kepentingan warga.

Dalam election, setiap individu pasti memilih wakil yang mewakili golongannya.Saya sebagai individu merasa paling terwakilkan oleh calon Independen Bang Faisal Basri dan Bang Biem Benjamin.Saya pilih Faisal Basri dan Biem Benjamin karena track record mereka yang baik dan banyak simpatisan yang saya tau merupakan orang-orang cerdas dan ‘waras’.Orang-orang ini mendukung Bang Faisal&Biem dengan keikhlasan dan hati nurani.

“Kau terpelajar, cobalah bersetia pada kata hati” – Pramoedya Ananta Toer.


Faisal Basri itu seorang ekonom dan juga dosen Universitas Indonesia.I always trust an academician, for I believe that a just society will be delivered either by revolutioner or an academician.(Maka dari itu kombinasi Bung Karno yang revolusioner dan Bung Hatta yang akademisi merupakan kombinasi yang mematikan).Saya tidak menyesal memilih bang Faisal&Biem karena saya memilih dengan hati nurani,bukan karena saya dikasih baju kotak kotak atau dikasih beras 10 Kg.Meskipun hingga saat ini, Quick Count menunjukkan bahwa Jokowi&Ahok serta Foke&Nara akan maju ke putaran ke dua, saya tetap senang ada tokoh seperti bang Faisal&Biem.Tokoh yang maju untuk warga, bukan untuk partai.Motivasi Bang Faisal&Biem menjadi Cagub dan Cawagub ini sedikit banyak mengingatkan saya pada motivasi dari seorang mahasiswa yang berusaha menjadi ketua himpunan jurusan, motivasinya adalah membawa yang terbaik untuk jurusannya, bukan untuk golongan mereka.Bang Faisal&Biem, mewakili saya, mewakili hati nurani saya.


Untuk sekarang ini, mungkin belum saatnya bang Faisal&Biem memimpin Jakarta.Maka saya percayakan Jakarta saya yang saya cintai ini kepada Pak Jokowi dan Bang Ahok, meskipun belum 100% mereka dinyatakan menang.Saya percaya pada akademisi, tetapi saya juga percaya dengan orang yang mencintai rakyat seperti pak Jokowi.Saya mempercayai kata-kata teman saya yang orang asli Solo, dia bilang Jokowi tidak akan dengan mudah disetir oleh golongan dan partai karena ke idealismean dan kecintaannya pada rakyat.Meskipun Pak Jokowi bukan orang Jakarta, saya harap dia mencintai Jakarta sama seperti dia mencintai Solo.Dan untuk Bang Ahok, a very unlikely and uncommon politician.Masih muda dan mewakili golongan minoritas ditambah dengan track record yang bagus sebagai anggota DPR.Semoga Bang Ahok bisa mendampingi Pak Jokowi untuk membina Jakarta dan mengenal Jakarta.Wahai calon pemimpinku, jadilah pemimpin yang amanah dan tumbuhkanlah rasa iba, menangislah kalian melihat ketidakadilan di jalanan Jakarta ini.Jadikanlah Jakarta sebagai kota yang nyaman, bukan hanya untuk cukong, mafia, preman, ataupun birokrat busuk, tetapi untuk mereka yang tertidur di jalan dan menunggu sebuah perubahan.

“Kalau kemanusiaan tersinggung, semua orang yang berperasaan dan berfikiran waras ikut tersinggung, kecuali orang gila dan orang berjiwa kriminal.Biarpun dia sarjana” – Pramoedya Ananta Toer.




PS: Tersinggunglah kalian semua apabila berjalan menyusuri Jakarta.Jakarta ini sedang sakit, kawan.


Tuesday, June 26, 2012

Feeling the 'Vibration'

A lot of people thought that Motivational Books and Positive Thinking Books are bullcrap, idiotic nonsense created by idiotic people who tried to hypnotize and fool themselves to be happy and positive.I'd say: I dig that kind of books.I've been reading quite a few book which talked about "Law of Attraction", "Universe Conspiration", "Power of the Positive Feeling", and so on.

Yesterday, I came across a book written by Lynn Grabhorn.The title is: Excuse me, your life is waiting: The Astonishing Power of Positive Feelings.


Another book about "Positive Feeling".Another friends saying that I'm such a fool for believing in such stuff.This book is quite different.It has a very light words, humorous phrase, a very easy reading.If it's a coffee, I'd say this is cappucino.Cappucino is a light coffee but with so much taste to savor and embrace. Although I might said after a few chapters it became really boring.Like cappucino, after a few sips you'll eventually get bored but then again, just like cappucino, the flavour is unforgettable and you actually get 'something' from it.

I like Lynn Grabhorn approach in emphasizing and illustrating how to be "Positive".Lynn said that human are basically a walking energy.Yes indeed we are, we're a walking energy and our energy are in harmony with the Universe.I've been reading books about how the Universe captured our signal and that's how pretty much Law of Attraction happened.But rather by thought, Lynn instructed use our feeling to send signal to the universe.Because feeling is energy, and Universe communicate with us in an energy wavelength.

I remember, a month ago I was applying for a scholarship for Djarum Foundation.I was determined, I put a lot of 'thought' into it.In the end, I didn't get it, I didn't even pass the administration phase.Reading Lynn's book, I was taken aback.I put so much thought but I've never really feeling it.Frankly, ever since I got accepted in UGM, I've never really feeling anything anymore.Back then, when I was struggling in my last year of high school, I was very determined to be accepted in UGM and majoring in International Relations.And I'm feeling it, I'm 'vibrating' every time I heard words about Jogja or UGM, or International Relations.Before this event, I've been vibrating too, back when I was applying for an Exchange Year in United States.Before I even got to USA and got accepted in UGM, I was already imagining myself being there.I Googled every day, I practiced my English, I Googled International Relations courses.I was vibrating a good feeling, I wasn't only determined, I was ready to be granted by rewards.And.... I got my rewards.

Lynn also stated: "We, human, are a walking magnet.We constantly pulling back into our world anything that just happens to be playing on the same frequencey or wavelength".When we're feeling happy and filled with joy and gratitude.Our emotions are sending out high frequency vibrations that will magnetize only good stuff back to us.Like attracts like.

and finally the four step that I'm trying to apply in my life now:
1.Identify what I DON'T want.
2.From that, Identify what I DO want.
3.Get into the feeling place of what I want.
4.Expect, listen, and allow it to happen.

Like attracts like.Those people blabbering about positive words and retweeting positive words are doing useless thing if they can only blab, but not feel.

Not thought, but feel.
A perfect way to astonish positive feeling in me.Feels as good as having a medium tenderloin steak.

If you're interested in reading it, here's the link for the free eBook: HERE.

Thursday, April 26, 2012

HI Banget?

HI disini stands for Hubungan Internasional.Jurusan yang paling saya inginkan untuk dapatkan pas masih SMA dan juga jurusan yang membuat saya pesimistis karena rumor-rumor yang beredar mengenai tingkat kesulitannya.
However, I break the myth.Kalau orang seperti saya aja masuk, saya rasa rumor-rumor tentang anak HI itu salah.Atau...I was simply lucky and the rumors are true?


2 tahun sudah saya bertahan jadi anak HI dan satu rumor tentang HI yang sudah saya buktikan: jurusan ini membentuk anda jadi manusia superior dan arogan.How come? Well..paradigma orang telah terbentuk kalau diplomat itu gajinya tinggi, bisa keliling dunia, pekerjaan necis lah, dan siapa sih yang biasanya jadi diplomat? anak HI kan (kata orang-orang).Little did people know kalo diplomat itu bukan sekedar PNS Kemenlu yang di posting sana sini untuk kerja di KBRI, and little did people know..anak HI itu banyak loh yang gak jadi diplomat.Tapi anda dibentuk seperti itu, gimana ngga? setiap ketemu orang dan bilang saya anak HI langsung dilabeli: calon diplomat masa depan.Setiap ikut konferensi ke HI-an langsung dipuja puji dibilang calon diplomat masa depan.Paradigma dan labeling dari masyarakat membentuk most anak HI (termasuk saya indeed) jadi orang yang arogan, sok tau, sok iya, sok elegan.

2 tahun saya jadi anak HI, mengikuti kegiatan kegiatan berbau ke HI-an seperti MUN maupun konferensi-konferensi anak HI seperti PSNMHII, saya banyak menemui (gak semuanya sih, but mostly) anak-anak HI yang sudah termakan paradigma.Saking snobbish nya saya sampe bingung mereka emang passionate dengan HI sehingga segitu boastingnya tentang HI atau memang saya yang salah karena muak dengan boasting-an ke HI an.Bilang begini pun bukan berarti saya tidak bangga jadi anak HI maupun tidak termakan paradigma.Saya jelas termakan paradigma, sering banget merasa jurusan paling kece di FISIPOL UGM jadi kalo jalan suka sok-sokan.Sok-sok nulis kayak gini tapi seneng juga kalo dibilang "calon diplomat masa depan", rasa rasanya saya udah punya guarantee masa depan cemerlang! Saya sering merasa saya tidak "HI banget" though.Emang kayak gimana sih anak yang "HI banget"? Ya itu anak anak yang gila MUN atau debate, yang bookmarks Google Chrome nya Foreign Affairs, BBC News, yang suka retweet retweet berita berita seputar Nuklir, Turmoil di Suriah, yang kalo ngumpul ngomonginnya tentang demokrasi, politik domestik dan suka menganalisa bagaikan pengamat politik profesional.

Tapi memang dasar saya manusia paradoks macam kucing schrodinger.Mati iya, hidup iya, mati ngga, hidup ngga.Saya mati-matian membenci dan muak dengan orang-orang semacam itu tetapi saya download apps apps international news biar paling nggak gak bodo bodo amat kalo ditanyain tentang masalah HI.Saya seneng banget kalo lagi pake baju formal buat MUN (nah tuh saya ikut MUN kan) serasa diplomat beneran.Saya haus akan beasiswa keluar atau segala macem hal yang bisa bikin saya keluar negeri lah biar kesannya HI banget.Saya bilang orang-orang snobbish itu HI mediocre padahal saya sendiri sama mediocre nya.

Tetapi saya mencapai satu kesimpulan bahwa saya, dan teman-teman saya emang HI banget to some extend.
Saya HI banget dibagian kemakan omongan pengen jadi diplomat, suka pake baju-baju ala diplomat kalo MUN, dan actually looking forward ke pertemuan-pertemuan Mahasiswa HI biar bisa dipuji puji.
Teman saya yang lain HI banget karena bookmarks nya penuh dengan berita-berita internasional.
Yang satu lagi suka retweet-retweet berita tentang konflik internasional lalu di ikuti dengan analisa analisa.
Ada lagi yang bacanya buku-buku HI macam bukunya Joseph Nye, Samuel Huntington, dll.
Ada juga yang addicted ke konferensi-konferensi internasional.Segala konferensi di luar negeri peduli setan apa temanya di ikutin.
Ada yang suka tweet tweet frustasi tentang pelajaran HI tapi sebenarnya diam diam biar orang tau kalo pelajaran HI tuh ceritanya sulit.
Ada juga yang tipikal suka MUN, suka debate, suka tampil, suka berbicara depan umum, suka pidato.
Bahkan yang gak suka melakukan hal-hal diatas tetapi mengembrace statusnya sebagai anak HI dan actually merasa secure karena dia anak HI pun ada.
Dan konklusi saya pun berakhir.Kalo memang sudah di HI, well....you guys are HI banget to some extend.

Jadi, HI banget kah anda?






Partikel


Setelah 8 tahun hiatus akhirnya Dewi Lestari (Dee) kembali dengan buku ke-4 dari serial Supernova nya: Partikel, yang dirilis 13 April 2012 kemarin.Membaca Partikel ini membuat saya tidak berhenti menggeleng-gelengkan kepala dan berfikir: "How could a person write a book like this? Genius!".Mungkin kalo penulis Barat atau Haruki Murakami yang penulis Jepang saya tidak heran apabila menulis buku dengan tema seperti ini, tapi penulis Indonesia? Saya rasa hanya Dee yang bisa pulled it off, sucessfully, leaving you in awestruck condition.

Mereview Partikel rasanya kurang afdol kalau tidak menilik kembali ke 3 buku sebelumnya: 1)Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh, 2)Akar, dan 3)Petir.Tidak masalah sebenarnya buku manapun yang akan anda baca duluan, tidak perlu berurutan dari KPBJ karena setiap buku menawarkan cerita yang berbeda dan hanya sedikit kepingan dari buku sebelumnya.Tetapi ke-4 buku ini terhubung dalam satu tema dan terdapat kepingan-kepingan penghubung di setiap bukunya.Apa korelasinya? Bacalah sendiri untuk menemukan korelasinya.Tetapi satu benang merah yang mengikat saya juga terhadap buku-buku Supernova ini: karakternya.Karakter-karakter dari setiap buku ini sama sama sedang melakukan "pencarian" dan mungkin "aktualisasi diri", entah apa yang mereka cari tetapi yang jelas hidup mereka penuh dengan "tanda tanya".Mungkin inilah hal yang menyebabkan saya jatuh cinta sekali dengan karakter-karakter di buku seri Supernova, karena saya juga sedang dalam proses "mencari".

Dee selalu berhasil menampilkan karakter yang unik dan kuat.So strong that you think the characters are real and you want to be like the characters.Karakter favorit saya ada dua: Ferre dari Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh dan Bodhi dari Akar.Kenapa Ferre? Karena Ferre somewhat mencerminkan ketragisan hidup saya hahaha.Ironi yang cantik.Sesosok yang merasa hidup tidak sesuai dengan keinginannya, misjudged by the society, dan yang paling ironi: menginginkan hal yang tidak bisa dia dapatkan padahal dia bisa saja mendapatkan yang lain dengan mudah.Ferre ini masokis dan orang aneh seperti saya, bertahan mencintai hal yang menyakitkan dan malah merasa alive karenanya.Lalu ada lagi Bodhi, Bodhi itu...bebas..free-spirited, tidak terikat dengan apapun, tipe orang yang bisa menemukan kedamaian dalam dirinya sendiri.Saya ingin jadi Bodhi, bebas, tidak terikat.Bodhi menjalani hidupnya sesuai dengan keinginannya.Tetapi Bodhi juga diliputi dengan tanda tanya, dia tidak hidup tragis, dia hanya hidup 'tidak lengkap'.

Di buku Partikel, saya kembali berkenalan dengan karakter yang membuat saya tersenyum dengan kenaifannya tetapi juga bertepuk tangan dalam hati dengan kecerdasannya yang luar biasa: Zarah.Buku Partikel memang terfokus pada Zarah, yang lahir di Bogor dari pasangan ayah yang sangat cerdas bernama Firas dan ibu yang religius bernama Aisyah.Zarah dididik berbeda dengan anak-anak kebanyakan.Firas, ayahnya, yang merupakan profesor Biologi di IPB tidak mempercayai sistem pendidikan yang dianggap terlalu mengikat dan membatasi kreativitas.Zarah lalu dididik sendiri secara khusus oleh Firas, dijejali informasi-informasi Biologi terutama mengenai Kerajaan Fungi.Fungi dan Firas adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan menurut Zarah.Zarah selalu merasa Ayahnya mampu berbicara dengan Fungi dan Fungi-Fungi ini menjadi alat komunikasi mereka dengan "Tuhan".Kontroversi Firas ini lalu menimbulkan masalah di keluarganya yang juga merupakan salah satu tema utama dari buku ini.Ke kontroversialannya ini lalu diwariskannya pada Zarah.Setelah hilangnya Firas secara misterius, Zarah pun masuk ke sebuah petualangan luar biasa yang membawanya mulai dari Tanjung Puting di Kalimantan hingga ke Glastonbury yang merupakan kota yang terkenal karena menjadi pusat komunitas New Age beliefs.

Keluarbiasaan Dee itu ada pada risetnya yang detail setiap kali dia menulis buku.Saya berdecak kagum dengan pengetahuannya mengenai dunia Enteogen, Fungi, extra-terrestrial, dan tulisannya yang selalu sarat spiritualisme.Tetapi dengan bahasannya yang ringan dan mudah dimengerti serta tulisannya yang seperti ada "jiwa" nya, Dee mampu menyisipkan komedi satir dan bahkan drama opera sabun tanpa terlihat murahan.Pujian saya terhadap buku ini harus diakui tidak terlepas dari kebiasan saya tentang subjek dari cerita Partikel sendiri.Saya memang tidak terlalu maniak tentang alien, crop circle atau konspirasi teori yang berbau extra-terrestrial.Tetapi saya selalu tertarik dengan konspirasi yang meliputi pembangunan-pembangunan situs sejarah seperti Piramida Giza, Stonehenge, Maccu Pichu, dan bagaimana hal semacam itu dapat dibangun di peradaban dahulu yang teknologinya belum secanggih sekarang.Saya juga dari dulu selalu curious tentang perjalanan antar dimensi, mempercayai bahwa orang-orang yang hilang secara misterius itu bukan dibawa alien keluar angkasa melainkan ditarik ke dimensi lain, sebuah parallel universe.


Hal luar biasa lainnya dari Dee yang saya kagumi adalah "Spiritualisme ala Dee".Saya mengagumi bagaimana dia bisa membedakan antara keagamaan dan spiritualitas dan bagaimana pencarian jati diri merupakan sebuah perjalanan spiritual bukan keagamaan dan spiritualitas dapat dicapai melalui agama manapun asalkan kita mampu mengaksesnya melalui fikiran kita.

Jadi bagi anda yang sedang "mencari" diri anda, saya menyarankan buku seri Supernova ini untuk anda baca dan selami bersama karakter-karakternya.

PS:
Bersamaan dengan dirilisnya buku Partikel ini, Dee merilis ulang ke3 buku sebelumnya agar tema covernya sama semua menjadi seperti ini:
(Kalau beli Partikel, dapet gratis kupon diskon Filosofi Kopi cetakan terbaru plus berhadiah Diary)

Yang ini koleksi Buku Supernova saya:

Ini blog yang dari SMA sering saya baca, all about berita-berita aneh hahaha.Blog Misteri Enigma: http://xfile-enigma.blogspot.com/

Monday, April 16, 2012

Air

“Hati adalah air, aku lantas menyimpulkan. Baru mengalir jika menggulir dari tempat tinggi ke tempat lebih rendah. Ada gravitasi yang secara alamiah menggiringnya. Dan jika peristiwa jatuh hati diumpamakan air terjun, maka bersamamu aku sudah merasakan terjun, jumpalitan, lompat indah. Berkali-kali. Namun kanal hidup membawa aliran itu ke sebuah tempat datar, dan hatiku berhenti mengalir.”
-Dewi Lestari 'Peluk'


Apabila hati diumpamakan dengan air, dan saya adalah air..Bisa dikatakan, saya tidak pernah berhenti mengalir sejak mungkin setahun yang lalu.
Entah kapan saya mulai berubah menjadi air, mengalir mengikuti arus, menerjang batu-batuan di sungai, kotoran di comberan, terdiam bagaikan air di danau, atau terjun bebas dengan deras bagaikan air terjun.Saya bukan air,saya selalu menjadi api.Tapi dalam satu sorotan mata dan satu sentuhan saja, saya telah berubah menjadi air.
Si air yang mengikuti tanpa pertanyaan pola bumi yang telah digariskan untuknya.Tidak melawan, tidak menggugat, hanya mengikuti.Ditempatkan dimanapun saya terus mengalir, bagaikan udara yang terus menerus berhembus demi kehidupan manusia.Bagaikan sinar matahari juga yang terus menerus menyinari bumi ini demi adanya kehidupan.Saya tiba-tiba saja ditakdirkan untuk mengalir.
Celakanya, saya mengalir tanpa henti.

Saya terus mengalir tanpa henti, seakan-akan saya digariskan oleh Tuhan untuk tidak di hentikan.
"Biarkan senyawa air yang satu itu, dia memang saya gariskan untuk terus mengalir"
"Bukankah itu buruk, Tuhan? Segala yang berlebihan itu tidak baik.Bukankah begitu yang Kau bilang?"
"Dia harus belajar"

Lalu dalam satu hari saja, satu kalimat, satu tatapan mata, saya dihentikan.Tuhan ingin saya berhenti? Saya membatin dalam hati.Tapi saya selalu yakin, Tuhan tidak ingin saya berhenti.Ini cara saya belajar.Saya bergeming ketika dihentikan, mengiyakan, seperti takdir air yang selalu mengikuti pola.Tetapi atom-atom dalam partikel air saya tau, saya tidak akan berhenti mengalir.

I imagine myself like a water, in a swimming pool or a bath tub.I was told to stop, tidak mengalir lagi demi kebaikan dunia dan katanya, kebaikan saya sendiri.Saya terima saja, karena saya tau, dia yang menghentikan adalah seseorang yang mencintai saya, si air.Air yang mengalir deras dan hanya dia yang bisa menghentikan.Dia punya kuasa.Karena Tuhan memberitahu dia untuk menjadikan saya air.
I imagine myself as a faucet.

Dia yang menyalakan keran ini, membiarkan saya mengalir keluar, membuat partikel-partikel H20 saya sebagai air berpencar kemana-mana.Terkadang saya terjebak di sebuah danau, frustasi dengan kegemingan danau lalu kemudian mencari cara untuk keluar, kembali lagi ke dia.Terkadang pula saya melewati comberan, kotor dan bau.Tetapi saya mengalir.Saya membiarkan diri saya mengalir, karena saya harus kembali ke dia.

Jika saya adalah air, si peristiwa jatuh hati, sebuah hati.Saya telah berada di semua medan dimana air bisa berada.Dalam waktu hanya setahun.Kanal hidup tidak membawa saya ke sebuah tempat datar kali ini.Saya sudah pernah disana, tapi saya memberontak, saya menguap ke udara, lalu kembali lagi menjadi hujan, mengaliri dia sekali lagi.Saya harus kembali ke dia.

I repeat it everyday like a mantra:Saya harus kembali ke dia.

Saya tidak pernah berhenti mengalir, meskipun dia yang membuka keran hidup saya menghentikannya.
Saya adalah air, saya ditakdirkan untuk terus mengalir.Begitu kata Tuhan pada saya.
Sebagaimana sebuah air semestinya, saya akan kembali ke laut.
Di laut itu, dia akan tau, saya tidak pernah berhenti mengalir.Saya akan mengalir, meski saya dan dia telah bertemu di laut.

Meski keran telah terhenti, saya adalah air, saya adalah 61,8 persen senyawa yang mengalir dalam dia.Saya adalah tetesan hujan yang tak sengaja jatuh ke rambut dia.


Saya adalah air.

Dan air, ditakdirkan untuk mengalir.

Sunday, January 8, 2012

DEW

I just bought Arisan 2! soundtrack
My thought about this album? Well let me quote Banana Yoshimoto: "It's so gorgeous, it's almost feel like sadness"
This is a very short story inspired by the song(s) in it and also a crappy kind of review.

BEGIN!
The first captivating song is Underwater Zen by Bemby Gusti.
The beginning of the song puts me in some kind of "placid moment".
And then the music begin to get faster and I begin to see a picture of this.

I'm not alone though.Ada kamu disana.
We're holding hand underwater, I can see your smile behind that snorkling mask.
I can feel the exact definition of freedom.
Aku bebas, kamu bebas.Bebas dari realita, di bawah sana cuma ada aku, ada kamu, tidak ada ada tamparan-tamparan realita.
Waktu berhenti.Hanya aku, kamu dan kebebasan.
And the song play, on and on, and on.
"In fair solitude..where life goes for two.
the moonlight can bear, this sullen affair.
Though calm is the tide, racing to please us.
The canvas of time that frames the serenity of life that I know so well.
And with you I can tell..Telling me sail through the stream side,
this zen of mine..it goes out for you.
Let the flow finds the truth, the truth that it seesm to fill us the comfort of love"


Until we rise up to the surface, reaching the sun..see each other and smile, and then I hug you..like I've never before.
And then we walk back to our cottage, sleep because we are so tired after an all day swimming and playing in the ocean.
The next morning when I woke up a different song is on.
DEW by Santamonica feat Dimas Widiarto
You're still sleeping by the time I wake up but a moment later you wake up because I move my arms.Our door is open and I can see the blue ocean from our room.

"I wanna relish the moment, wehen we're lying in our bed.
Smoking watched the sun rising and inhaling each other's scents
Open the windows and let the breeze touch our skin..
Open your eyes
Let's make it worth waiting"


We wake up and have a set of american breakfast, we sit in the outdoor area of the cottage.Looking towards the ocean, embracing the breeze.

But then, an earthquake happens, a tremendous one and I fell of off my chair..but the distance between the chair and the ground seems very very far.. I keep on falling and falling and falling and then I reach the ground..and wake up.

I've been dreaming all along.We're not in an island, we were, but it was a long time ago.Not now.
I'm in reality again.
Di Jakarta lagi.
Sendiri lagi.
Terjebak rutinitas.
Radio mobilku sayup sayup melantunkan Dusk Lounge.

"The voice inside my head lingers with fright.
The landscape of your mind is a scary place to be.
But you don't know that, for you are unable to see.
I have nothing else to give to you dear.
All I have is sympathy and fear"

"How can I reach you my love?"


Dan hujan perlahan lahan turun, membahasi jalanan Sudirman yang padat akan kendaraan.
Titik titik hujan bercampur dengan cahaya lampu dari beratus ratus kendaraan.
Seakan diejek oleh realita, aku menangis, entah kenapa.
Menutup mata.Menghiraukan klakson yang bersahut-sahutan
END!

Like every ending of a short movie that I always made in my head everytime I contemplate and listen to my iPod.It always end with a credit song.
The credit song, Oh Jakarta by Rasmondo Gascoro.
"Oh inilah...Jakarta..
Jatuh cinta..di Jakarta..
Selalu ada kejutannya..

Oh inilah Jakarta..
Putus cinta di Jakarta..
Tak pernah jelas kelanjutannya

Oh ini Jakarta..


Mereka tertawa dengan botol sampanye di tangannya
Gelas merekapun beradu
dan muncullah dentingan merdu..

Mereka pesta dan berdansa
seolah tak ada apa apa
ada banyak cara..untuk menutupinya"


Craving for good local music? go buy Arisan 2! soundtrack and enjoy your own movie in your head.

Saturday, December 24, 2011

Surat yang Tak Pernah Sampai

Surat yang Tak Pernah Sampai adalah prosa yang paling saya sukai di buku Filosofi Kopi nya Dewi Lestari.
Dee has manage to make me feel choked by sadness everytime I read this one beautiful piece.
I wonder if others who read this also feel choked by sadness when reading this.I wonder if their eyes got all teary when reading this.Or is it just me?

Substansi dari prosa ini adalah hal yang merangkum semua hal yang saya ingin katakan tetapi karena terbatasnya kata-kata dan sempitnya imajinasi saya atau mungkin karena rasa yang terlalu besar saya tidak akan pernah mampu menulis prosa seperti ini.
But here comes Dee, she manages to wrote this, as if she's reading into people's life, and dug out their sad tragic love story and turn it into a letter.Here's : Surat yang Tak Pernah Sampai (Yang sekarang tersampaikan)



Suratmu itu tidak akan pernah terkirim, karena sebenarnya kamu hanya ingin berbicara pada dirimu sendiri. Kamu ingin berdiskusi dengan angin, dengan wangi sebelas tangkai sedap malam yang kamun beli dari tukang bunga yang berwajah memelas, dengan nyamuk-nyamuk yang cari makan, dengan malam, dengan detik jam.. tentang dia.

Dia yang tidak pernah kamu mengerti. Dia, racun yang membunuhmu perlahan. Dia, yang kamu reka dan kamu cipta.

Sebelah darimu menginginkan agar dia datang, membencimu hingga muak dia mendekati gila, menertawakan segala kebodohannya, kekhilafannya untuk sampai jatuh hati padamu, menyesalkan magis yang hadir naluriah setiap kali kalian berjumpa. Akan kamu kirimkan lagi tiket bioskop, bon restoran, semua tulisannya- dari mulai nota sebaris sampai doa berbait-bait. Dan beceklah pipinya karena geli, karena asap dan abu dari benda benda yang ia hanguskan-bukti-bukti bahwa kalian pernah saling tergila-gila-berterbangan masuk ke matanya. Semoga Ia pergi dan tak pernah menoleh lagi. Hidupmu, hidupnya, pasti akan lebih mudah.

Tapi, sebelah darimu menginginkan agar dia datang, menjemputmu, mengamini kalian, untuk kesekian kali, jatuh hati lagi, segila-gilanya, sampai batas gila dan waras pupus dalam kesadaran murni akan cinta. Kemudian mendamparkan dirlah kalian di sebuah alam tak dikenal untuk membaca ulang semua kalimat, mengenang setiap inci perjalanan, perjuangan dan ketabahan hati. Betapa sebelah darimu percaya bahwa setetes airmata pun akan terhitung, tak ada yang mengalir mubazir, segalanya pasti akan bermuara di satu samudera tak terbatas, lautan merdeka yang bersanding sejajar dengan cakrawala..dan itulah tujuan kalian.

……………………
kalau saja hidup tidak berevolusi, kalau saja sebuah momen dapat selamanya menjadi fosil tanpa terganggu, kalau saja kekuatan kosmik mampu stagnan di satu titik. maka tanpa ragu kamu akan memilih satu detik bersamanya untuk diabadikan. cukup satu.
satu detik yang segenap keberadaannya dipersembahkan untuk bersamamu, dan bukan dengan ribuan hal lain yang menanti untuk dilirik pada detik berikutnya. betapa kamu rela membatu untuk itu.

tapi, hidup ini cair. semesta ini bergerak. realitas berubah. seluruh simpul dari kesadaran kita berkembang mekar.
hidup akan mengikis apa saja yang memilih diam, memaksa kita untuk mengikuti arus agungnya yang jujur tetapi penuh rahasia. kamu, tidak terkecuali.
……………………

Kamu takut karena ingin jujur.
Dan kejujuran menyudutkanmu untuk mengakui kamu mulai ragu.

Dialah bagian terbesar dalam hidupmu, tapi kamu cemas. Kata 'sejarah' mulai menggantung hati-hati di atas sana. Sejarah kalian. Konsep itu menakutkan sekali.

Sejarah memeiliki tampuk istimewat dalam hidup manusia, tapi tidak lagi melekat utuh pada realitas. Sejarah seperti awan yang tampak padat berisi tapi ketika disentuh menjadi embun yang rapuh.
……………………

Skenario perjalanan kalian mengharuskanmu untuk sering menyejarahkannya, merekamnya, lalu memainkannya ulang di kepalamu sebagai Sang Kekasih Impian, Sang Tujuan, Sang Inspirasi bagi segala mahakarya yang termuntahkan kedunia. Sementara dalam setiap detik yang berjalan, kalian seperti musafir yang tersesat di padang. Berjalan dengan kompas masing-masing tanpa ada usaha saling mencocokan. Sesekali kalian bertemu, berusaha saling toleransi atas nama cinta dan perjuangan yang Tidak Boleh Sia-Sia. Kamu sudah membayar mahal untuk perjalanan ini. Kamu pertaruhkan segalanya demi apa yang kamu rasa benar. Dan mencintainya menjadi kebenaran tertinggimu.

Lama baru kamu menyadari bahwa Pengalaman merupakan bagian tak terpisahkan dari hubungan yang diikat oleh seutas perasaan mutual.

Lama bagi kamu untuk berani menoleh kebelakang, menghitung, berapa banyakkah pengalaman nyata yang kalian alami bersama?

Sebuah hubungan yang dibiarkan tumbuh tanpa keteraturan akan menjadi hantu yang tidak menjejak bumi, dan alasan cinta yang tadinnya diagungkan bisa berubah menjadi utang moral, investasi waktu, perasaan serta perdagangan kalkulatif antara dua pihak.

Cinta butuh dipelihara. Bahwa di dalam sepak terjangnya yang serba mengejutkan, cinta ternyata masih butuh mekanisme agar mampu bertahan.

Cinta jangan selalu ditempatkan sebagai iming-iming besar, atau seperti ranjau yang tahu-tahu meledakkananmu---entah kapan dan kenapa. Cinta yang sudah dipilih sebaiknya diikutkan di setiap langkah kaki, merekatkan jemari, dan berjalanlah kalian bergandengan... karena cinta adalah mengalami.

Cinta tidak hanya pikiran dan kenangan. Lebih besar, cinta adalah dia dan kamu. Interaksi. Perkembangan dua manusia yang terpantau agar tetap harmonis. Karena cinta pun hidup dan bukan cuma maskot untuk disembah sujud.

Kamu ingin berhenti memencet tombol tunda. Kamu ingin berhenti menyumbat denyut alami hidup dan membiarkannya bergulir tanpa beban.

Dan kamu tahu, itulah yang tidak bisa dia berikan kini.
………………………………………………..

Hingga akhirnya..

………………………………………………..

Di meja itu, kamu dikelilingin tulisan tangannya yang tersisa (kamu baru sadar betapa tidak adilnya ini semua. Kenapa kamu yang kebagian tugas dokumentasi dan arsip, sehingga cuma kamulah yang tersiksa?)

Jangan heran kalau kamu menangis sejadi-jadinya.

Dia, yang tidak pernah menyimpan gambar rupamu, pasti tidak tahu apa rasanya menatap lekat-lekat satu sosok, membayangkan rasa sentuh dari helai rambut yang polos tanpa busa pengeras, rasa hangat uap tubuh yang kamu hafal betul temperaturnya.

Dan kamu hanya bisa berbagi kesedihan itu, ketidakrelaan itu, kelemahan itu, dengan wangi bunga yang melangu, dengan nyamuk-nyamuk yang putus asa, dengan malam yang pasrah digusur pagi, dengan detik jam dinding yang gagu karena habis daya.

Sampai pada halaman kedua suratmu, kamu yakin dia akan paham, atau setidaknya setengah memahami, berapa sulitnya perpisahan yang dilakukan sendirian.Tiak ada sepasang mata lain yang mampu meyakinkanmu bahwa ini memanhg sudah usai. Tidak ada kata, peluk, cium, atau langkah kaki beranjak pergi, yang mampu menjadi penanda dramatis bahwa sebuah akhir telah diputuskan bersama.Atau sebaliknya, tidak ada sergahan yang membuatmu berubah pikiran, tidak ada kata 'jangan' yang mungkin apabila diucapkan dan ditindakkan dengan tepat, akan membuatmu menghambur kembali dan tak mau pergi lagi.

Kamu pun tersadar, itulah perpisahan paling sepi yang pernah kamu alami.


Ketika surat itu tiba di titiknya yang terakhir, masih akan ada sejumput kamu yang bertengger tak mau pergi dari perbatasan usai dan tidak usai. Bagian dari dirmu yang merasa paling bertanggung jawab atas semua yang sudah kalian bayarkan bersama demi mengalami perjalanan hati sedahsyat itu. Dirimu yang mini, tapi keras kepala, memilih untuk tidak ikut pegi bersama yang lain, menetap untuk terus menemani sejarah. Dan karena waktu semakin larut, tenagamu pun sudah menyurut, maka kamu akan membiarkan si kecil itu bertahan semaunya.

Mungkin, suatu saat, apabila sekelumit dirimu itu mulai kesepian dan bosan, ia akan berteriak-teriak ingin pulang. Dan kamu akan menjemputnya, lalu membiarkan sejarah membentengi dirinya dengan tembok tebal yang tak lagi bisa ditembus. Atau mungkin, ketika sebuah keajaiban mampu menguak kekeruhan ini, jadilah ia semacam mercusuar, kompas, Bintang Selatan... yang menunjukkan jalan pulang bagi hatimu untuk, akhirnya menemuiku.

Aku, yang merasakan apa yang kau rasakan . Yang mendamba mengalami. Aku, yang telah menuliskan surat-surat cinta padamu. Surat-surat yang tak pernah sampai.


Dee, you are a genius.I don't know how many times I've read this and I still feel like being punched in the joint.

Referensi:
Dewi Lestari.Filosofi Kopi."Surat yang tak pernah sampai".2006

Wednesday, December 21, 2011

Outer capitalism.Inner Socialism

When you're majoring in International Relations, you're often being put in a situation when you've to decide are you the "Right" Force or are you the "Left" Force.In your 3rd semester you'll often heard this: Yes, I take this region because you know, their ideology represents what lies inside me, a revolutionary spirit to fight capitalism!

I'm not saying that IR kids have to choose firmly whether they're a Right-ish or a Left-ish.There are a lot of my friends who don't even care whether they're more to Right or to Left, there're also those who stand in the middle.And where exactly I am? am I a Jedi or a Sith? (With the case, both are awesome affiliation.None are more inferior or superior)

I've write about this before in my previous post: the first time people take a glance at me, they'll never ever think that my role model is Soe Hok Gie, Tan Malaka, and Christopher McCandless.Those people are the kind of people who says no to "luxury", they're very down to earth to the point they turn down any kind of well established luxurious life.While I am, Azarine Kyla Arinta, is craving for prosperity, for a luxurious life.But in contrary..I'm extremely troubled by any kind of injustice, unfairness, and inequeality.

My bed sheet is United States flag and I adore United States of America.I adore them so much I never think they're a bastard for invading Iraq, interventing in every countries's problem, or offering a financial aid with a ridiculous lending rates.This is the kind of love that blindfolding.However, though I adore United States of America very much and my outer appearance is what my friends refer to "a walking capitalism" I've never been intrigued by capitalism.I like America for it's democracy and it's freedom for speech, and to do whatever you want, but they're seriously lacking in human empathy.My problem with capitalism is, those who already in a great position with a lot of money often forgot that they're not living in this world alone, that there are people around them who needs their help.I'm not saying help by giving money but to educate them, to improve their quality of life, THIS often, or I'd rather say always been forgotten by capitalistic system.This is why although my outer saying Right, my heart always says Left.

Meanwhile, the Left, I just barely know the Left.For quite a long time I always identified Left as : USSR (FAIL), Russia (140% FAIL), North Korea (Seriously?), China (Oh come on).Those kind of Left has make me skeptical.I'm being judgmental apparently.I've forgot there are also the kind of Left like the first govt of Indonesia and the Latin Americas.

Here's the story about Latin Americas.I have always been a big fan of Brasil's soccer team, I've supported them since the World Cup in 2002, 9 years ago.From that moment, I've determine myself that someday I'll go to Brasil and I'll explore Latin Americas.I've never been interested in Latin Americas for their ideology, I'm interested because of their culture and their similarity to Indonesia.This though has recently change since I take Politik&Pemerintahan Amerika Latin class this semester.Through this class I've learn a spirit of revolution.A courage to fight for our rights, to be fully independent and to help our friends based on solidarity and humanity principles not based on profits.THIS what strengthen my "Left"ism.

Humanity.Empathy.Careness.THESE are forgotten by the wealthy "Right"ism.

So this is my statement, my honest forethought from my limited sources and my limited brain: I'm not saying I don't want to live a luxurious life, I'm not saying I'm not profit oriented and do not want to be wealthy.
I WANT to live a luxurious life.
I WANT to be wealthy.
because I have objectives

With my money, I want to help those around me, my society, to educate and improve their quality of living.By that, we'll all live a perfect harmonious society where everyone is equally educated, equally wealthy.

My skepticism from USSR and North Korea's "Left"ism is although they stated to be a "Left" country where everyone is EQUAL but the fact is not everyone is equal, the fact is the workers are still being exploited, the elite politics still dominate all the money in the country.EQUALLY POOR is foolish.RICHNESS FOR A FEW is also foolish.

I'm writing this because I feel like people are judging me from my appearance.I'm indeed a walking "Right"ish but do I have to ac t like it? Nawh.I'd rather not.


the flags in my room said it all